Wednesday, 3 April 2013

Suppositoria


  SUPPOSITORIA

A.   Pengertian
Menurut FI edisi III, hal 32
Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo, dapat melarut, melemak atau meleleh pada suhu tubuh.
Menurut Farmakope Indonesia ed. IV
suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. 
Menurut R.Voight, hal 281
Suppositoria adalah sediaan berbentuk silindris atau kerucut, berdosis atau berbentuk mantap. Yang ditetapkan untuk dimasukkan kedalam rectum, sediaan ini melebur pada suhu tubuh atau larut dalam lingkungan berair.
Menurut Lachman, hal 1147
Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan obat padat yang umumnya dimasukkan kedalam rectum, vagina dan jarang digunakan di uretra.
Menurut DOM Martin, hal 834
Suppositoria adalah sediaan padat yang dugunakan melalui bagian tubuh yaitu vagina, rectum dan uretra.
Menurut RPS, hal 1609
Suppositoria adalah bentuk sediaan padat dengan bentuk bervariasi, biasa untuk pengobatan dilakukan dengan diselipkan dengan suppositoria melunak, melebur dalam cairan tubuh, melalui vagina, rectum dan uretra.
Menurut Parrot hal 382
Suppositoria adalah bentuk sediaan tunggal yang dimasukkan kedalam dubur, vagina dan uretra.
Menurut Scoville’s hal 367
Suppositoria adalah sediaan obat padat yang diselipkan melalui vagina dan uretra.

B.      Sediaan
Suppositoria vaginal (ovula) umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5 g, dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air, seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi.
Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. Bahan dasar suppositoria yang umum digunakan adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen glikol berbagai bobot molekul, dan ester asam lemak polietilen glikol.
Bahan dasar suppositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada pelepasan zat terapetik. Lemak coklat cepat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh, oleh karena itu menghambat difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat diobati. Polietilen glikol adalah bahan dasar yang sesuai untuk beberapa antiseptik. Jika diharapkan bekerja secara sistemik, lebih baik menggunakan bentuk ionik dari pada nonionik, agar diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum. Meskipun obat bentuk nonionik dapat dilepas dari bahan dasar yang dapat bercampur dengan air, seperti gelatin tergliserinasi dan polietilen glikol, bahan dasar ini cenderung sangat lambat larut sehingga menghambat pelepasan. Bahan pembawa berminyak seperti lemak coklat jarang digunakan dalam sediaan vagina, karena membentuk residu yang tidak dapat diserap, Sedangkan gelatin tergliserinasi jarang digunakan melalui rektal karena disolusinya lambat. Lemak coklat dan penggantinya (lemak keras) lebih baik untuk menghilangkan iritasi, seperti pada sediaan untuk hemoroid internal.

a. Suppositoria Lemak Coklat
Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat dapat dibuat dengan mencampur bahan obat yang dihaluskan ke dalam minyak padat pada suhu kamar dan massa yang dihasilkan dibuat dalam bentuk sesuai, atau dibuat dengan minyak dalam keadaan lebur dan membiarkan suspensi yang dihasilkan menjadi dingin di dalam cetakan. Sejumlah zat pengeras yang sesuai dapat ditambahkan untuk mencegah kecenderungan beberapa obat, (seperti kloralhidrat dan fenol) melunakkan bahan dasar. Yang penting, suppositoria meleleh pada suhu tubuh.
Perkiraan bobot suppositoria yang dibuat dengan lemak coklat, dijelaskan dibawah ini. Suppositoria yang dibuat dari bahan dasar lain, bobotnya lebih berat dari pada bobot yang disebutkan dibawah ini.
Suppositoria rektal. Suppositoria rektal untuk dewasa berbentuk lonjong pada satu atau kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g.
Suppositoria vaginal. Umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5 g, dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air, seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. Ukuran berkisar, panjang 1,25 – 1,5 inchi dan diameter 5/8 inchi
1.         Tujuan penggunaan (ovula)
Biasanya digunakan untuk lokal dengan efek sebagai antiseptik, kontrasepsi, anastetik lokal, dan pengobatan penyakit infeksi seperti trichomonal, bakteri danmonilial.
2.         Absorpsi Vagina
Absorpsi sediaan vaginal terjadi secara pasif melalui mukosa. Proses absorpsi dipengaruhi oleh fisiologi, pH, dan kelarutan dan kontanta partisi obat. Permukaan vagina dilapisi oleh lapisan film air (aqueous film) yang volume, pH dan komposisinya dipengaruhi oleh umur, siklus menstruasi, dan lokasi. pH vagina meningkat secara gradien yaitu pH 4 untuk anterior formix dan pH 5 di dekat cervix. Pada umumnya ovula digunakan untuk efek lokal. Tapi beberapa penelitian menunjukkan ada beberapa obat yang dapat berdifusi melalui mukosa dan masuk dalam peredaran darah. Sebagai contoh, kadar propanolol dalam plasma untuk sediaan ovula lebih besar dibandingkan dengan rute oral pada dosis yang sama.(Husa’s, Pharmaceutical Dispensing, hal. 117)
Suppositoria dengan bahan lemak coklat harus disimpan dalam wadah tertutup baik, sebaiknya pada suhu dibawah 30 derajat (suhu kamar terkendali).

b.      Pengganti Lemak Coklat
Suppositoria dengan bahan dasar jenis lemak, dapat dibuat dari berbagai minyak nabati, seperti minyak kelapa atau minyak kelapa sawit yang dimodifikasi dengan esterifikasi, hidrogenasi, dan fraksionasi hingga diperoleh berbagai komposisi dan suhu lebur (misalnya minyak nabati terhidrogenasi dan lemak padat). Produk ini dapat dirancang sedemikian hingga dapat mengurangi terjadinya ketengikan. Selain itu sifat yang diinginkan seperti interval yang sempit antara suhu melebur dan suhu memadat dan jarak lebur juga dapat dirancang umtuk penyesuaian berbagai formulasi dan keadaan iklim.

c.       Suppositoria Gelatin Tergliserinasi
Bahan obat dapat dicampur ke dalam bahan dasar gelatin tergliserinasi, dengan menambahkan sejumlah tertentu kepada bahan pembawa yang terdiri dari lebih kurang 70 bagian gliserin, 20 bagian gelatin dan 10 bagian air. Suppositoria ini harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, sebaiknya pada suhu dibawah 35 derajat.

d.      Suppositoria dengan Bahan Dasar Polietilen Glikol
Beberapa kombinasi polietilen glikol mempunyai suhu lebur lebih tinggi dari suhu badan telah digunakan sebagi bahan dasar suppositoria. Karena pelepasan dari bahan dasar lebih ditentukan oleh disolusi dari pada pelelehan, maka massalah dalam pembuatan dan penyimpanan jauh lebih sedikit dibanding massalah yang disebabkan oleh jenis pembawa yang melebur. Tetapi polietilen glikol dengan kadar tinggi dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan. Pada etiket suppositoria polietilen glikol harus tertera petunjuk “basahi dengan air sebelum digunakan”, meskipun dapat disimpan tanpa pendinginan, suppositoria ini harus dikemas dalam wadah tertutup rapat.

e.       Suppositoria dengan Bahan Dasar Surfaktan
Beberapa surfaktan nonionik dengan sifat kimia mendekati polietilen glikol dapat digunakan sebagai bahan pembawa suppositoria. Contoh surfaktan ini adalah ester asam lemak polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat. Surfaktan ini dapat digunakan dalam bentuk tunggal atau kombinasi dengan pembawa suppositoria lain untuk memperoleh rentang suhu lebur yang lebar dan konsistensi. Salah satu keuntungan utama pembawa ini adalah dapat terdispersi dalam air. Tetapi harus hati-hati dalam penggunaan surfaktan, karena dapat meningkatkan kecepatan absorpsi obat atau dapat berinteraksi dengan molekul obat yang menyebabkan penurunan aktivitas terapetik.

f.       Suppositoria Kempa atau Suppositoria Sisipan
 Suppositoria vaginal dapat dibuat dengan cara mengempa massa serbuk menjadi bentuk yang sesuai. Dapat juga dengan cara pengkapsulan dalam gelatin lunak.
(FI ed. IV hal 16-17)

C.      Efek penghantaran Obat
1. Efek Lokal
Pada umumnya digunakan untuk pengobatan wasir, konsipasi, infeksi dubur. Zat aktif yang biasa digunakan:
Anastetik lokal (benzokain, tetrakain)
 Adstringen (ZnO, Bi-subgalat, Bi-subnitrat)
 Vasokonstriktor (efedrin HCL)
 Analgesik (turunan salisilat)
 Emollient (balsam peru untuk wasir)
  Konstipasi (glisin bisakodil)
Antibiotika untuk infeksi

2. Efek Sistemik
Meringankan penyakit asma (teofilin, efedrin, amonifilin)
 Analgetik dan antiinflamasi (turunan salisilat, parasetamol)
 Anti arthritis, radang persendian (fenilbutason, indometasin)
Hipnotik & sedatif (turunan barbiturat)
Trankuilizer dan anti emetik (fenotiazin, klorpromazin)
 Khemoterapetik (antibiotik, sulfonamida)
(Lachman, Teory and Practice of Industrial Pharmacy, hal 565)

D.     Karakterisasi Dosis
Umumnya dosis pada pemberian rektal besarnya 1,5-2 kali atau lebih dosis oral kecuali untuk obat-obat keras. Dosis yang benar tergantung pada kecepatan pelepasan obat dari suppo. Ini berarti basis suppo dan jumlah obat harus dipertimbangkan secara bersamaan. Karena pembawa dapat merubah kecepatan absorbsi obat jumlah obat yang diberikan dalam suppo tergantung pada pembawa dan sifat fisikokimia obat. Bobot suppo untuk orang dewasa sekitar 2 gram sedangkan untuk anak-anak sekitar 1 gram.
(Lachman, Teory and Practice of Industrial Pharmacy, 564).

E.      .FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ABSORPSI REKTAL
PEMBERIAN PER REKTAL (Farmasetika 2 Biofarmasi)
      Dapat mengurangi pengaruh pH lambung, enzim lambung (yang merusak ZA), mencegah inaktivasi ZA yang sudah diserap ke peredaran darah oleh hati (bahan yang terserap di bag. akhir usus langsung menuju vena cava dan sebagian besar oleh vena haemoroidales superior menuju vena porta dan hati)
      dilakukan bila pemberian per oral tidak mungkin, baik karena sifat obat sendiri maupun keadaan penderita (menghindari obat dimuntahkan, pasien koma, dll)

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINETIKA PRE DISPOSISI ZA
         Penghancuran Sediaan
        Suhu rektum kurang lebih 37 oC, suppo melebur 32,6-37,6 oC (36,5 oC).
        Jarak lebur maksimal 10 menit.
      Setelah peleburan, suppo akan menjadi massa kental yang melapisi permukaan mukosa, hal yang berpengaruh pada massa tsb antara lain : konsistensi (massa yg lebih lunak--pelepasan lebih cepat), kekentalan setelah peleburan (kekentalan meningkat--laju pelepasan ZA menurun), kemampuan pecah (zat pembawa kental--memperlambat pelepasan, untuk meningkatkan pelepasan suppo lemak dapat ditambah surfaktan HLB 4-9.
         Transfer ZA dalam cairan rektum
        Sifat ZA dalam suppo (ZA teremulsi tidak memberikan efek ke pelepasan karena ZA terlarut dalam air yg teremulsi dalam fase lemak, ZA yg lipofil menggunakan basis hidrofil)
        kelarutan ZA
        koefisien partisi dalam fase lemak dan cairan rektum
        ukuran partikel ZA ( partikel kecil--kekentalan meningkat---transfer ZA menurun)

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINETIKA PENYERAPAN ZA YG AKAN DIBERIKAN PER REKTUM
         kedudukan suppo setelah pemakaian
         waktu tinggal suppo dalam rektum
         pH cairan rektum (penyerapan terjadi dalam mekanisme transpor pasif yang tergantung pada koefisien partisi, pKa ZA, dan pH cairan rektum)
         konsentrasi ZA dalam cairan rektum(semakin tinggi konsentrasi ZA-laju penyerapan ZA m-).

FAKTOR PATOLOGIS YANG MEMPENGARUHI PENYERAPAN MELALUI REKTUM
         pasien demam---penyerapan lebih baik bila ZA dalam basis lemak
         pasien gangguan transisi saluran cerna dan diare--tidak boleh pengobatan sistemik rektum
         harus diberikan setelah rektum dibersihkan
         lebih disukai pada subjek berpuasa.
Dosis obat yang digunakan melalui rektum mungkin lebih besar atau lebih kecil daripada obat yang dipakai secara oral, tergantung kepada faktor-faktor seperti keadaan tubuh pasien, sifat fisika kimia obat dan kemampuan obat melewati penghalang fisiologi untuk absorpsi dan sifat basis suppositoria serta kemampuannya melepaskan obat supaya siap untuk diabsorpsi. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat dalam rektum pada pemberian obat dalam bentuk suppositoria yaitu :
i)          Faktor fisiologis
Antara lain ada tidaknya feses dalam rektum, sirkulasi darah di rektum, beberapa kondisi patologik seperti diare sehingga terjadi dehidrasi pada tubuh, pH cairan rektal, juga selaput lendir pada dinding rektum. Untuk memberikan efek yang optimal rektum harus dikosongkan dulu. Cairan rektal memiliki kapasitas dapar yang rendah, sehingga pH cairan rektal sangat dipengaruhi pH zat aktif yang ada melarut. Bila diatur pH kritis untuk memperoleh efisiensi absorpsi yang optimal maka dibutuhkan penambahan dapar ke dalam formula. Selaput lendir bisa menghambat absorpsi terutama bila selaput lendir tersebut kental dan tebal. Penempatan suppositoria di dalam rektum, bila terlalu dalam akan menuju vena hemoroidal atas.

ii)        Faktor fisikokimia
Antara lain koefisien partisi lemak-air dari zat aktif, kecepatan hancurnya basis, kecepatan disolusi zat aktif dalam cairan rektal, keadaan zat aktif dalam suppositoria (jika terlarut, maka dalam basis biasanya proses pelepasan dan disolusi zat aktif menjadi lebih lambat), kelarutan zat aktif dalam cairan rektal, ukuran partikel zat aktif.

iii)      Adanya zat tambahan khusus ke dalam basis
Misalnya surfaktan, dapat merubah tegangan permukaan selaput mukosa pada rektal sehingga absorpsi zat berkhasiat menjadi lebih baik. Surfaktan dapat memperbesar kelarutan suatu zat berkhasiat sehingga diabsorpsi lebih cepat, tapi juga dapat membentuk suatu kompleks senyawa baru yang lambat diabsorpsi.

iv)      Faktor aliran darah
Makin banyak pembuluh darah di sekitar suppositoria maka absorpsi obat akan semakin cepat. Tetapi luas permukaan absorpsi terbatas di daerah kolon dan tidak ada perbedaan luas permukaan yang mencolok di daerah kolon, baik di pinggir, di tengah maupun di dalam daerah kolon. Setelah obat diabsorpsi dari usus halus obat dialirkan melalui vena porta hepatika ke hati. Hati memetabolisme obat tersebut, dapat berupa modifikasi atau mengurangi efek obat tersebut. di lain pihak jumlah yang lebih banyak dari obat yang sama dengan di atas akan diabsorpsi melalui anorektal. Vena haemoroid halus yang mengelilingi kolon dan rektum masuk vena kava inferior sehingga tidak masuk ke hati. Vena haemoroid menuju ke vena porta dan bermuara di hati. Tetapi lebih dari setengah pemberian melalui rektal diabsorpsi langsung ke sirkulasi tubuh. Sirkulasi limfa juga membantu absorpsi obat melalui rektal dan mengalihkannya dari hati. Rektal tidak mempunyai daya kapasitas buffer. Menurut Schumber, asam dan basa lemah lebih cepat diabsorpsi daripada asam / basa kuat dan yang terionisasi kuat lainnya.
(Lachman, Teory and Practice of Industrial Pharmacy, 565-568)

Baca juga :

0 comments:

Post a Comment

Share It